ADDRESS

55928DE0
www.sentabet.net

Pochettino Sebut Aktivitas Belanja di Klub Inggris Berdampak Negatif Untuk Pemain Muda

Pochettino Sebut Aktivitas Belanja di Klub Inggris Berdampak Negatif Untuk Pemain Muda
Pochettino Sebut Aktivitas Belanja di Klub Inggris Berdampak Negatif Untuk Pemain Muda

Pochettino Sebut Aktivitas Belanja di Klub Inggris Berdampak Negatif Untuk Pemain Muda, Manajer Tottenham Hotspur Mauricio Pochettino tidak senang dengan aktivitas gila-gilaan klub Inggris saat ini. Baginya itu bakal berdampak negatif bagi pembinaan pemain muda di sana.

Pochettino Sebut Aktivitas Belanja di Klub Inggris Berdampak Negatif Untuk Pemain Muda

Manchester United tentu jadi klub dengan pengeluaran terbesar musim panas lalu setelah memboyong Paul Pogba dengan harga 89 juta poundsterling. Belum lagi mereka juga mendatangkan Eric Bailly (30 juta pound), Henrikh Mkhitaryan (25 juta pound), dan juga Zlatan Ibrahimovic.

Selain itu Manchester City juga tak kalah boros dengan mendatangkan Leroy Sane, Nolito, John Stones, Claudio Bravo, dan Ilkay Guendogan dengan total belanja lebih dari 150 juta pound. Belum lagi jika berbicara Chelsea, Arsenal, dan Liverpool.

Belanja besar itu tentu sebagai syarat agar klub-klub tersebut bisa tampil kompetitif bersaing memperebutkan minimal jatah ke Liga Champions dan tentunya gelar juara.

Tapi di satu sisi, apa yang dilakukan klub-klub itu punya dampak buruk untuk perkembangan para pemain muda khususnya pemain asli Inggris. Ini tentu berimbas pada minimnya regenerasi pemain yang bisa mengganggu perputaran pemain untuk skuat timnas Inggris.

“Budayanya seperti itu. Mungkin jika Marcus Edwards (pemain muda Spurs) lahir di Brasil atau Argentina, hari ini dia akan jadi salah satu pemain muda potensial di dunia. Mungkin semua tim-tim besar akan berebut mendatangkannya,” ujar Pochettino seperti dikutip Soccerway.

“Tapi dia di Tottenham, dia ada di Inggris, dan dia masih anak-anak, umur 17 tahun. Kami tidak bisa menganggapnya sebagai pria dewasa, hampir dewasa, dan dia pantas untuk bermain,” sambungnya.

“Budayanya berbeda. Premier League itu kuat dari sisi finansial, dan Tottenham – seperti Liverpool dan seluruh klub lainnya – lebih senang mendatangkan pemain berkualitas dan berpengalaman, membeli pemain berumur 24, 23, atau 26 yang meroket namanya, ketimbang memberi kesempatan kepada para pemain muda dan menunggu pemain seperti Marcus Edwards berkembang.”

Spurs sendiri boleh dibilang jadi salah satu klub yang fokus ke pembinaan pemain muda. Usia rata-rata The Lilywhites adalah di bawah 26 tahun dan itu menunjukkan bahwa Pochettino memang senang meroketkan pemain muda.

Contoh saja Harry Kane dan Dele Alli yang memang meroket namanya dalam 1-2 musim terakhir. Lalu masih ada pemain muda Inggris yang jadi andalan seperti Danny Rose, Kyle Walker, Tom Carroll, atau Josh Onomah.

“Itu yang namanya keseimbangan. Tottenham itu punya proyek berbeda. Tentu saja kami membeli banyak pemain tapi kami juga coba memberikan kesempatan kepada para pemain muda yang berpotensi jadi andalan tim utama.”

“Ini adalah klub yang mejual pemain karena mereka butuh uang untuk bertahan. Di Argentina, jika Anda berumur 19 atau 20 tahun, dan Anda belum melakoni debut maka orang-orang berpikir mereka bukan pemain bagus. Tentu saja visi sepakbolanya berbeda,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan